Menurut banyak orang Tanjung Enim identik dengan PTBA.Jika seseorang menyebut Tanjung Enim,orang lain akan berkata “tempat tambang batubara itu ya?”
Tidak dapat dipungkiri,Tanjung Enim memang besar karena PTBA (bagi yang belum tau kebesarannya,silahkan klik disini)
Namun kebesaran itu hanya dinikmati sebagian orang.Sejak berdirinya puluhan tahun lalu,apa yang telah diperbuat PTBA terhadap “home base”nya?.pasti ada,tetapi tidak banyak.
Perkembangan tanjung enim terasa sangat lambat,dari apa yang terlihat di mata,sejak 13 tahun yang lalu kami meninggalkan tanjung enim ya masih “ngono-ngono wae”kata orang surabaya.
Padahal sudah berapa banyak isi perut bumi di bawah tanah Tanjung enim yang dikeruk oleh mesin-mesin raksasa milik PTBA? tidak usah dihitung,pokoknya banyak deh.
Namun apa imbal baliknya?apakah cukup dengan menjadikan orang2 Tanjung Enim kerja kontrak kepada perusahaan2 kontraktornya?
Dapat kita bayangkan seandainya suatu saat batu bara yang ada di Tanjung Enim itu habis.PTBA pasti akan meninggalkan Tanjung Enim dan mencari areal tambang yang baru.
Tinggallah Tanjung Enim dengan segala dampak lingkungan yang disebabkan kegiatan operasional PTBA.tanah-tanah yang tidak produktif karena lapisan yang banyak mengandung hara sudah tidak ada.pengangguran dimana2 yang tentunya juga menyebabkan naiknya angka kriminalitas.
Tanjung Enim akan menjadi KOTA MATI !
Oleh karena itu,marilah segenap warga Tanjung Enim,kita berdayakan segala potensi yang masih tersisa di Tanjung Enim.Kita bangun dusun kita tercinta.tidak usah mengharapkan uluran tangan dan belas kasihan PTBA.karena suatu saat PTBA pasti akan pergi. Tinggal kita yang harus tetap berusaha bertahan hidup.mari kita bangun Tanjung Enim dengan segala usaha dan kerja keras demi kelangsungan hidup anak cucu kita.
Kepada warga Tanjung Enim yang ada di perantauan,kami menghimbau berikanlah sumbangsihmu kepada Tanjung Enim apapun bentuknya.
Agar kelak anak cucu kita masih dapat tertawa ceria sambil mandi basahan di tepi sungai enim tanpa dihantui pikiran besok mau makan apa…
10 komentar:
sebagai seorang yang "kurang beruntung" karena terlalu cepat ditinggal mati orangtua, saya kemudian terpaksa secara total meninggalkan tanjung enim. berbekal ijazah d3, saya terjun ke dalam sibuknya ibu kota. saking pahit dan susahnya kehidupan itu, sampai lupa bagaimana awalnya dan kapan pula saya mulai berdiri sendiri seperti sekarang. hidup sebagai seorang penduduk DKI yang miskin. mengontrak rumah untuk tinggal dan berusaha memiliki apa-apa dengan mencicil.
saya memang masih miskin. tapi setiap saat menoleh kembali ke tanjung enim, saya masih melihat teman-teman kecil saya terus berjalan di tempat. makin bertambah usianya makin seperti orang bingung. kerja sebentar, habis kontraknya. andai kelak orangtua mereka di sana sudah tiada, atau harta serta tanah dan rumah yang dimiliki pun ludes, bagaimana mereka akan melanjutkan hidup di kota kecil yang penuh debu batubara itu?
joko, seorang teman itu, adalah anak dari keluarga bergaris keturunan jawa tulen. tanjung enim memang dapat kita pandang juga sebagai kantong pemukiman sub-etnis PUJAKESUMA -Putera Jawa Kelahiran Sumatera- (disebut sub-etnis karena sejarah percampurannya masih dalam kurun waktu kurang dari 200 tahun). kakek joko didatangkan belanda dari jawa pada jaman penjajahan untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang. di tanjung enim beliau menikahi seorang perempuan yang juga berasal dari jawa. kemudian lahirlah ibu joko. jadi ibu joko adalah anak orang jawa yang lahir dan dibesarkan di tanjung enim, menyerap 40%an bahasa lokal dalam pergaulan lingkungan, namun tetap menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa ibu (kalau diteliti, kualitas bahasa jawanya pun hanya 60%an dari bahasa jawa yang sesungguhnya). ibu joko kemudian menikah dengan bapak joko yang juga sama-sama PUJAKESUMA (anak orang jawa, kelahiran sumatera). kemudian lahirlah joko. secara ilmiah, entah bagaimana cara menentukan joko ini sebenarnya "orang apa".
joko, sejak kecil tampaknya memang dididik dalam sebuah tirani, atau lebih tepat sebuah kebudayaan konservatif. jika saya sejak di SMA sudah kenyang dipersuasi oleh orangtua untuk merantau, sebaliknya dengan joko. orangtua saya seorang karyawan sebuah perusahaan kontraktor pengelola salah satu tambang yang dimiliki PTBA saat itu telah sadar bahwa tanjung enim telah semakin tidak menjanjikan secara ekonomi bagi generasi muda. namun joko dan keluarga rupanya masih melihat keadaan yang "aman" dalam jangka panjang, dengan seragam coklat PTBA dan helm yang dikenakan bapaknya setiap pergi kerja. tanpa sadar bahwa semua itu akan ada akhirnya.
itulah yang kemudian membedakan torehan sejarah saya dengannya. saya telah menemukan hampir 50% hidup saya di perantauan ini, namun joko justru menganggap hidup sedag-sedang di luar tanjung enim adalah sebuah kegagalan. lebih baik hidup susah di kampung sendiri daripada sebaliknya.
saya ingin mengatakan bahwa ada banyak joko-joko yang lain di tanjung enim. baik yang PUJAKESUMA, asli enim, maupun sub-etnis lainnya datangan dari kabupaten lain di sumatera selatan itu. sebagian besar dari mereka terlalu takut untuk meninggalkan tanjung enim dan mencari harapan baru di tempat lain. sebagian lainnya mencoba memberanikan diri, namun sangat prematur - dalam kegagalan cepat-cepat pulang kampung.
apa yang dulu sering diberitakan oleh teman-teman dari tanjung enim ke ponsel saya adalah adanya kabar bagus mengenai bakal dibukanya lowongan besar-besaran di PTBA, PLTU baru, atau sub kontraktor PTBA yang baru di lokasi tambang baru. semua berita pepesan kosong yang selalu berujung nihil.
ketika saya telah berhasil menyelesaikan cicilan sepeda motor saya di jakarta, joko masih terus mencari-cari pekerjaan.
suatu ketika joko mengutarakan keinginannya kepada saya untuk mencoba mengadu nasib di jakarta, dan menumpang dengan saya sementara. dalam keadaan seperti itu, apa yang dapat saya duga adalah sebuah kemungkinan bahwa joko sekarang telah mulai bersikap seperti yang dulu saya lakukan. yaitu pasrah, siap menderita, dan hanya ingin segera berhadapan dengan masalah-masalah khas kota besar untuk saya "kalahkan". tapi ternyata saya salah, karena setelah mengetahui kalau gaji seorang security yang disalurkan oleh agency hanya berkisar antara 900 ribu - 1.2 juta (menjadi security adalah salah satu pilihan darurat yang dapat diambilnya di jakarta untuk pekerjaan pertama), joko menyatakan pikir-pikir dan mulai mengajukan beberapa perbandingan dengan besaran penghasilan orang tambang di tanjung enim. gaji satpam di SMJ saja 1.5 juta, katanya. sebuah sikap yang sangat absurd dan prematur.
gaji besar (dan dikabarkan orang banyak bergaji besar), berseragam gagah, memamerkan kendaraan roda dua terbaru, memang adalah apa yang terbetik di benak sebagian masyarakat muda tanjung enim. dulu, dengan berbekal koneksi atau hubungan dekat dengan orang berpengaruh di unit-unit kerja di tambang itu, seseorang memang selalu ada harapan untuk dimasukkan bekerja. semakin ke sini, tidak ada lagi kesempatan itu di tambang, namun menjadi ada di kopkar-kopkar. dan itu pun semakin sempit. tapi itulah tadi, semua ada jalan pintasnya. jadilah anak muda tanjung enim memang tidak pernah belajar bahwa untuk meraih sesuatu dalam tingkat apapun harus dengan cara berkompetisi dan dimulai dari nol.
ketika lahan pekerjaan semakin sempit dan boleh dikatakan mulai menghilang, sudah bukan lagi saatnya untuk bertahan secara konyol. saya tidak ingin semua orang terjebak dengan kata-kata bijak bahwa "MENCIPTAKAN LAPANGAN PEKERJAAN ADALAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGHARAP LOWONGAN KERJA". dalam keadaan menganggur dan tidak dapat berharap pada apapun, adalah lebih baik bagi mereka untuk segera mencari penghidupan dan keterampilan hidup itu di luar tanjung enim. adalah tidak salah bahwa mendapatkan pekerjaan formal di perantauan itu sama susahnya. namun jika semua kesusahan itu hanya diobrolkan dan diomongkan saja di atas PANCE atau di tangga rumah panggung di tanjung enim, semuanya akan tetap jauh panggang dari api. yang belum pernah merantau menjadi semakin takut untuk meninggalkan kampung, dan yang telah "gagal" dari rantau menjadi tidak mempelajari apa-apa dari kegagalanya itu.
menurut saya, apa yang harus kita kagumi dari etnis minangkabau dan batak sebagai kelebihan mereka atas sifat dari etnis dan masyarakat kita, tentu saja adalah semangat perantauannya itu.
benarlah kata anda itu, mang. jika kelak batubara itu habis di tanjung enim, PTBA akan terus bergeser ke kabupaten lahat. dan sanak famili kita hanya tinggal menikmati debunya saja.
(antonario@telkom.net)
Setuju pak atas kata-katanya ^_^
masuuuk akaaldaripada masuk angiiin..
lumayaaan daripada lumanyun... :P
Memang dampak ke depan dari perusahaan PTBA akan buruk,, tapi tidak kita pungkiri banyak perubahan-perubahan yang terjadi di Tanjung Enim, untuk memajukan Tanjung Enim kita perlu adanya sinergisitas di antara beberapa pihak seperti swasta,pemerintah,masyarakat,perusahaan untuk melakukan swadya serta partisipasi dari warga tanjung enim agar sadar perlunya meningkatkan kualitas hidup,menjaga lingkungan kita. Inisiatif yang dapat kita kembangkan dari pengetahuan lokal kita,,, yang pastinya kita jangan berpikir bahwa PTBA menghancurkan Kota Tnjung Enim yang mesti kita lakukan bagaimana memajukan,menjaga,membangun kota kita tercinta,,Semanga
ass
saya orang tanjung enim dan sampai skg pun saya masih tinggal di tanjung enim , bahkan rumah saya berdktan dgn kantor PTBA , saya ppun bersekolah di SMABA.
klo bleh ksih komen ya
setidaknya dengan adanya PTBA di tanjung enim ini membuat keadaan tanjung enim lebih baik drpd tidak terlpas dngan apa dampaknya kelak.
sekarang tanjung sdah pnya GOR sendiri,bowling lap-golf dll.
yaaah ,, memang sedikit tetapi itu cukup untuk sekadarnya.
memang klo bicra mslh lowongan pekerjaan ,, krna ak msih kecil jd ak krng bgtu memperhtikan ,, ttp yg aku kthui stiap ad lowongan kerja di PTBA selalu saja yang diterima kebanyakan orang dari luar tanjung enim padahal orang-orang ditanjung enim ini lumayan pintar dengan bergelar sarjana.
klo bicara masalah tanjung enim akan jadi kota mati setelah batubara habis dan hanya ditinggalkan debu saja , saya rasa tidak, karena PTBA akan membuat TAHURA di daerah bekas tambang ,selain itu PTBA juga kan memiliki pembibitan terbaik di Indonesia yang nantinya tanaman dari pembibitan tersebut digunakan untuk ditanam di daerah bekas tambang(saya tahu dari kunjungan sekolah saya ke PTBA)
kurang lebih sih gtu.
makasi
wass
setidaknya anda bagian dari masyarakat tnjung enim yang gagal,,lebih mati lagi kalau tanjung enim tidak ada PTBA,,,apakah masyarakat kita tahu sebelumnya tentang tambang batubara sebelum PTBA berdiri?? anda sebagian dari penulis yang belum mengetahui banyak kinerja PTBA..apa anda tau gunanya kopkar?sub KON PTBA?penghijauan Lahan dari PTBA?dan apa anda tau berapa miliyar pajak yang dikeluarkan oleh PTBA ke kab. Muara Enim?untuk pengembangan tanjung enim jangan tanyakan ke PTBA tapi tanyakan ke pemerintah kecamatan dan kabupaten,,dikemanakan pajak besar dari PTBA?sebaiknya anda memiliki pengetahuan yang luas dulu sebelum membuat sebuah blog..
aku jeme lingge asli tanjung enim walaupun aku bukan pegawai PTBA tapi aku bangga dengan membuka subkontrak untuk pekerja2 muda...
dari pada hidup di jakarta susah mending be ume saje / jualan pempek cuman untuk mendapatkan 1,2 juta di tanjung enim sangatlah mudah dari pada jadi satpam 1,2 di jakarta setara dengan 2 juta ditanjung enim untuk biaya hidup yang mahal di ibu kota..
hahaahahahaaaaaaa,
payah loeee, tak pernah survey ya???
kloe gak tau apa2 tuh diem aja dech,
loe gak belajar geografi sih, and u gak pernah tau apa yg dilalkukan ptba, apa yg akan dlkukan ptba dlam jgka panjng nntie, dan u blankkk unsur hara nya gak ada,
hahahahhaaaaa, faktanya aja adaa, makan nya survey tuh langsung ketambang and jgan asal jdie orang
Emang bener tapi kan gaji lu yg 1,2 menjadi satpam sama dengan gaji penjual pempek ditanjung enim,,,
Dengan seperti itu biaya kemanusiaan ditanjung enim itu lebih besar dr pada jakarta.....
Makan tuh jakarta yg ga sehat lo...yang penuh sampah....
Inget sebagian besar perekonomian tanjung enim dibantu oleh PT BA
Buktinya PTBA ikut membantu TIMNAS Indonesia kita...
Dengan begitu kota tnjung enim ikut memajukan pembangunan bangsa dibantu oleh PTBA....
Menurutku kalo ada pilihan kerja bwt lu ditnjg enim lu bakalan milih tnjung enim ktimbang jktlu itu....
Sayangnya perusahaan2 yg ada dtnjung enim ga mau nerima lu kerja...dan akhirnya lu frustasi menjelek2an tanjung enim dan pergi ke jakarta....
Haaaa
Ini baru fakta
BLOG INI MENYESATKAN. DIBUAT OLEH WONG YANG FRUSTASI. WONG YANG CICAK MACAK. IDAK TAHU KEADAAN SEBENARNYO DI TANJUNG. BASENG BAE ASAL BACOT. KAU NAK SARE...SARELAH KAU DHEWEK, IDAK USAH NGAJAK KAMI. GAJI KAU TU LEBIH KECIK DIBANDING PENGEMIS YANG IDAK TAHU MALU.
DASAR JEMME GILE !!!!
wakakakkaaa.. budak lolo memang LOLO ABIS.
asak bae bacot...
makonyo banyak-banyak tanyo atau cari tau tentang pertambangan ptba lebih jauh lagi. asal tau bae.. batubara di tanjung enim tuh masih lamo abis nyo. untuk tambang terbuka yg sekarang ini bae dak ado 1/3 nyo. masih banyak batubara mudo yg mungkin 30-60tahun lagi br pacak di panen.
kau peker bae dewek masa 1x panen bae itu cukup lamo, mungkin cukup untuk 3-5x garis keturunan kau. (kl kau ado nasep begawe di ptba) wakakakaa..
budaklolo ini terlalu LOLO untuk tau seluk beluk PTBA.
Poskan Komentar