Selamat Datang kance dulur se-Tanjung Enim angat

Kamis, Juni 05, 2008

Tanjung Enim dan PTBA

Menurut banyak orang Tanjung Enim identik dengan PTBA.Jika seseorang menyebut Tanjung Enim,orang lain akan berkata “tempat tambang batubara itu ya?”

Tidak dapat dipungkiri,Tanjung Enim memang besar karena PTBA (bagi yang belum tau kebesarannya,silahkan klik disini)

Namun kebesaran itu hanya dinikmati sebagian orang.Sejak berdirinya puluhan tahun lalu,apa yang telah diperbuat PTBA terhadap “home base”nya?.pasti ada,tetapi tidak banyak.

Perkembangan tanjung enim terasa sangat lambat,dari apa yang terlihat di mata,sejak 13 tahun yang lalu kami meninggalkan tanjung enim ya masih “ngono-ngono wae”kata orang surabaya.

Padahal sudah berapa banyak isi perut bumi di bawah tanah Tanjung enim yang dikeruk oleh mesin-mesin raksasa milik PTBA? tidak usah dihitung,pokoknya banyak deh.

Namun apa imbal baliknya?apakah cukup dengan menjadikan orang2 Tanjung Enim kerja kontrak kepada perusahaan2 kontraktornya?

Dapat kita bayangkan seandainya suatu saat batu bara yang ada di Tanjung Enim itu habis.PTBA pasti akan meninggalkan Tanjung Enim dan mencari areal tambang yang baru.

Tinggallah Tanjung Enim dengan segala dampak lingkungan yang disebabkan kegiatan operasional PTBA.tanah-tanah yang tidak produktif karena lapisan yang banyak mengandung hara sudah tidak ada.pengangguran dimana2 yang tentunya juga menyebabkan naiknya angka kriminalitas.

Tanjung Enim akan menjadi KOTA MATI !

Oleh karena itu,marilah segenap warga Tanjung Enim,kita berdayakan segala potensi yang masih tersisa di Tanjung Enim.Kita bangun dusun kita tercinta.tidak usah mengharapkan uluran tangan dan belas kasihan PTBA.karena suatu saat PTBA pasti akan pergi. Tinggal kita yang harus tetap berusaha bertahan hidup.mari kita bangun Tanjung Enim dengan segala usaha dan kerja keras demi kelangsungan hidup anak cucu kita.

Kepada warga Tanjung Enim yang ada di perantauan,kami menghimbau berikanlah sumbangsihmu kepada Tanjung Enim apapun bentuknya.

Agar kelak anak cucu kita masih dapat tertawa ceria sambil mandi basahan di tepi sungai enim tanpa dihantui pikiran besok mau makan apa…

22 komentar:

budaklolo mengatakan...

sebagai seorang yang "kurang beruntung" karena terlalu cepat ditinggal mati orangtua, saya kemudian terpaksa secara total meninggalkan tanjung enim. berbekal ijazah d3, saya terjun ke dalam sibuknya ibu kota. saking pahit dan susahnya kehidupan itu, sampai lupa bagaimana awalnya dan kapan pula saya mulai berdiri sendiri seperti sekarang. hidup sebagai seorang penduduk DKI yang miskin. mengontrak rumah untuk tinggal dan berusaha memiliki apa-apa dengan mencicil.

saya memang masih miskin. tapi setiap saat menoleh kembali ke tanjung enim, saya masih melihat teman-teman kecil saya terus berjalan di tempat. makin bertambah usianya makin seperti orang bingung. kerja sebentar, habis kontraknya. andai kelak orangtua mereka di sana sudah tiada, atau harta serta tanah dan rumah yang dimiliki pun ludes, bagaimana mereka akan melanjutkan hidup di kota kecil yang penuh debu batubara itu?

joko, seorang teman itu, adalah anak dari keluarga bergaris keturunan jawa tulen. tanjung enim memang dapat kita pandang juga sebagai kantong pemukiman sub-etnis PUJAKESUMA -Putera Jawa Kelahiran Sumatera- (disebut sub-etnis karena sejarah percampurannya masih dalam kurun waktu kurang dari 200 tahun). kakek joko didatangkan belanda dari jawa pada jaman penjajahan untuk dipekerjakan sebagai buruh tambang. di tanjung enim beliau menikahi seorang perempuan yang juga berasal dari jawa. kemudian lahirlah ibu joko. jadi ibu joko adalah anak orang jawa yang lahir dan dibesarkan di tanjung enim, menyerap 40%an bahasa lokal dalam pergaulan lingkungan, namun tetap menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa ibu (kalau diteliti, kualitas bahasa jawanya pun hanya 60%an dari bahasa jawa yang sesungguhnya). ibu joko kemudian menikah dengan bapak joko yang juga sama-sama PUJAKESUMA (anak orang jawa, kelahiran sumatera). kemudian lahirlah joko. secara ilmiah, entah bagaimana cara menentukan joko ini sebenarnya "orang apa".

joko, sejak kecil tampaknya memang dididik dalam sebuah tirani, atau lebih tepat sebuah kebudayaan konservatif. jika saya sejak di SMA sudah kenyang dipersuasi oleh orangtua untuk merantau, sebaliknya dengan joko. orangtua saya seorang karyawan sebuah perusahaan kontraktor pengelola salah satu tambang yang dimiliki PTBA saat itu telah sadar bahwa tanjung enim telah semakin tidak menjanjikan secara ekonomi bagi generasi muda. namun joko dan keluarga rupanya masih melihat keadaan yang "aman" dalam jangka panjang, dengan seragam coklat PTBA dan helm yang dikenakan bapaknya setiap pergi kerja. tanpa sadar bahwa semua itu akan ada akhirnya.

itulah yang kemudian membedakan torehan sejarah saya dengannya. saya telah menemukan hampir 50% hidup saya di perantauan ini, namun joko justru menganggap hidup sedag-sedang di luar tanjung enim adalah sebuah kegagalan. lebih baik hidup susah di kampung sendiri daripada sebaliknya.

saya ingin mengatakan bahwa ada banyak joko-joko yang lain di tanjung enim. baik yang PUJAKESUMA, asli enim, maupun sub-etnis lainnya datangan dari kabupaten lain di sumatera selatan itu. sebagian besar dari mereka terlalu takut untuk meninggalkan tanjung enim dan mencari harapan baru di tempat lain. sebagian lainnya mencoba memberanikan diri, namun sangat prematur - dalam kegagalan cepat-cepat pulang kampung.

apa yang dulu sering diberitakan oleh teman-teman dari tanjung enim ke ponsel saya adalah adanya kabar bagus mengenai bakal dibukanya lowongan besar-besaran di PTBA, PLTU baru, atau sub kontraktor PTBA yang baru di lokasi tambang baru. semua berita pepesan kosong yang selalu berujung nihil.

ketika saya telah berhasil menyelesaikan cicilan sepeda motor saya di jakarta, joko masih terus mencari-cari pekerjaan.

suatu ketika joko mengutarakan keinginannya kepada saya untuk mencoba mengadu nasib di jakarta, dan menumpang dengan saya sementara. dalam keadaan seperti itu, apa yang dapat saya duga adalah sebuah kemungkinan bahwa joko sekarang telah mulai bersikap seperti yang dulu saya lakukan. yaitu pasrah, siap menderita, dan hanya ingin segera berhadapan dengan masalah-masalah khas kota besar untuk saya "kalahkan". tapi ternyata saya salah, karena setelah mengetahui kalau gaji seorang security yang disalurkan oleh agency hanya berkisar antara 900 ribu - 1.2 juta (menjadi security adalah salah satu pilihan darurat yang dapat diambilnya di jakarta untuk pekerjaan pertama), joko menyatakan pikir-pikir dan mulai mengajukan beberapa perbandingan dengan besaran penghasilan orang tambang di tanjung enim. gaji satpam di SMJ saja 1.5 juta, katanya. sebuah sikap yang sangat absurd dan prematur.

gaji besar (dan dikabarkan orang banyak bergaji besar), berseragam gagah, memamerkan kendaraan roda dua terbaru, memang adalah apa yang terbetik di benak sebagian masyarakat muda tanjung enim. dulu, dengan berbekal koneksi atau hubungan dekat dengan orang berpengaruh di unit-unit kerja di tambang itu, seseorang memang selalu ada harapan untuk dimasukkan bekerja. semakin ke sini, tidak ada lagi kesempatan itu di tambang, namun menjadi ada di kopkar-kopkar. dan itu pun semakin sempit. tapi itulah tadi, semua ada jalan pintasnya. jadilah anak muda tanjung enim memang tidak pernah belajar bahwa untuk meraih sesuatu dalam tingkat apapun harus dengan cara berkompetisi dan dimulai dari nol.

ketika lahan pekerjaan semakin sempit dan boleh dikatakan mulai menghilang, sudah bukan lagi saatnya untuk bertahan secara konyol. saya tidak ingin semua orang terjebak dengan kata-kata bijak bahwa "MENCIPTAKAN LAPANGAN PEKERJAAN ADALAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGHARAP LOWONGAN KERJA". dalam keadaan menganggur dan tidak dapat berharap pada apapun, adalah lebih baik bagi mereka untuk segera mencari penghidupan dan keterampilan hidup itu di luar tanjung enim. adalah tidak salah bahwa mendapatkan pekerjaan formal di perantauan itu sama susahnya. namun jika semua kesusahan itu hanya diobrolkan dan diomongkan saja di atas PANCE atau di tangga rumah panggung di tanjung enim, semuanya akan tetap jauh panggang dari api. yang belum pernah merantau menjadi semakin takut untuk meninggalkan kampung, dan yang telah "gagal" dari rantau menjadi tidak mempelajari apa-apa dari kegagalanya itu.

menurut saya, apa yang harus kita kagumi dari etnis minangkabau dan batak sebagai kelebihan mereka atas sifat dari etnis dan masyarakat kita, tentu saja adalah semangat perantauannya itu.

benarlah kata anda itu, mang. jika kelak batubara itu habis di tanjung enim, PTBA akan terus bergeser ke kabupaten lahat. dan sanak famili kita hanya tinggal menikmati debunya saja.

(antonario@telkom.net)

ranggabaya mengatakan...

Setuju pak atas kata-katanya ^_^

c4pt mengatakan...

masuuuk akaaldaripada masuk angiiin..
lumayaaan daripada lumanyun... :P

Anonim mengatakan...

Memang dampak ke depan dari perusahaan PTBA akan buruk,, tapi tidak kita pungkiri banyak perubahan-perubahan yang terjadi di Tanjung Enim, untuk memajukan Tanjung Enim kita perlu adanya sinergisitas di antara beberapa pihak seperti swasta,pemerintah,masyarakat,perusahaan untuk melakukan swadya serta partisipasi dari warga tanjung enim agar sadar perlunya meningkatkan kualitas hidup,menjaga lingkungan kita. Inisiatif yang dapat kita kembangkan dari pengetahuan lokal kita,,, yang pastinya kita jangan berpikir bahwa PTBA menghancurkan Kota Tnjung Enim yang mesti kita lakukan bagaimana memajukan,menjaga,membangun kota kita tercinta,,Semanga

drilli mengatakan...

ass

saya orang tanjung enim dan sampai skg pun saya masih tinggal di tanjung enim , bahkan rumah saya berdktan dgn kantor PTBA , saya ppun bersekolah di SMABA.

klo bleh ksih komen ya
setidaknya dengan adanya PTBA di tanjung enim ini membuat keadaan tanjung enim lebih baik drpd tidak terlpas dngan apa dampaknya kelak.
sekarang tanjung sdah pnya GOR sendiri,bowling lap-golf dll.
yaaah ,, memang sedikit tetapi itu cukup untuk sekadarnya.

memang klo bicra mslh lowongan pekerjaan ,, krna ak msih kecil jd ak krng bgtu memperhtikan ,, ttp yg aku kthui stiap ad lowongan kerja di PTBA selalu saja yang diterima kebanyakan orang dari luar tanjung enim padahal orang-orang ditanjung enim ini lumayan pintar dengan bergelar sarjana.

klo bicara masalah tanjung enim akan jadi kota mati setelah batubara habis dan hanya ditinggalkan debu saja , saya rasa tidak, karena PTBA akan membuat TAHURA di daerah bekas tambang ,selain itu PTBA juga kan memiliki pembibitan terbaik di Indonesia yang nantinya tanaman dari pembibitan tersebut digunakan untuk ditanam di daerah bekas tambang(saya tahu dari kunjungan sekolah saya ke PTBA)

kurang lebih sih gtu.
makasi
wass

Anonim mengatakan...

setidaknya anda bagian dari masyarakat tnjung enim yang gagal,,lebih mati lagi kalau tanjung enim tidak ada PTBA,,,apakah masyarakat kita tahu sebelumnya tentang tambang batubara sebelum PTBA berdiri?? anda sebagian dari penulis yang belum mengetahui banyak kinerja PTBA..apa anda tau gunanya kopkar?sub KON PTBA?penghijauan Lahan dari PTBA?dan apa anda tau berapa miliyar pajak yang dikeluarkan oleh PTBA ke kab. Muara Enim?untuk pengembangan tanjung enim jangan tanyakan ke PTBA tapi tanyakan ke pemerintah kecamatan dan kabupaten,,dikemanakan pajak besar dari PTBA?sebaiknya anda memiliki pengetahuan yang luas dulu sebelum membuat sebuah blog..

aku jeme lingge asli tanjung enim walaupun aku bukan pegawai PTBA tapi aku bangga dengan membuka subkontrak untuk pekerja2 muda...
dari pada hidup di jakarta susah mending be ume saje / jualan pempek cuman untuk mendapatkan 1,2 juta di tanjung enim sangatlah mudah dari pada jadi satpam 1,2 di jakarta setara dengan 2 juta ditanjung enim untuk biaya hidup yang mahal di ibu kota..

Anonim mengatakan...

hahaahahahaaaaaaa,

payah loeee, tak pernah survey ya???

kloe gak tau apa2 tuh diem aja dech,

loe gak belajar geografi sih, and u gak pernah tau apa yg dilalkukan ptba, apa yg akan dlkukan ptba dlam jgka panjng nntie, dan u blankkk unsur hara nya gak ada,
hahahahhaaaaa, faktanya aja adaa, makan nya survey tuh langsung ketambang and jgan asal jdie orang

Anonim mengatakan...

Emang bener tapi kan gaji lu yg 1,2 menjadi satpam sama dengan gaji penjual pempek ditanjung enim,,,
Dengan seperti itu biaya kemanusiaan ditanjung enim itu lebih besar dr pada jakarta.....
Makan tuh jakarta yg ga sehat lo...yang penuh sampah....
Inget sebagian besar perekonomian tanjung enim dibantu oleh PT BA
Buktinya PTBA ikut membantu TIMNAS Indonesia kita...
Dengan begitu kota tnjung enim ikut memajukan pembangunan bangsa dibantu oleh PTBA....
Menurutku kalo ada pilihan kerja bwt lu ditnjg enim lu bakalan milih tnjung enim ktimbang jktlu itu....
Sayangnya perusahaan2 yg ada dtnjung enim ga mau nerima lu kerja...dan akhirnya lu frustasi menjelek2an tanjung enim dan pergi ke jakarta....
Haaaa
Ini baru fakta

Anonim mengatakan...

BLOG INI MENYESATKAN. DIBUAT OLEH WONG YANG FRUSTASI. WONG YANG CICAK MACAK. IDAK TAHU KEADAAN SEBENARNYO DI TANJUNG. BASENG BAE ASAL BACOT. KAU NAK SARE...SARELAH KAU DHEWEK, IDAK USAH NGAJAK KAMI. GAJI KAU TU LEBIH KECIK DIBANDING PENGEMIS YANG IDAK TAHU MALU.

DASAR JEMME GILE !!!!

Anonim mengatakan...

wakakakkaaa.. budak lolo memang LOLO ABIS.
asak bae bacot...
makonyo banyak-banyak tanyo atau cari tau tentang pertambangan ptba lebih jauh lagi. asal tau bae.. batubara di tanjung enim tuh masih lamo abis nyo. untuk tambang terbuka yg sekarang ini bae dak ado 1/3 nyo. masih banyak batubara mudo yg mungkin 30-60tahun lagi br pacak di panen.
kau peker bae dewek masa 1x panen bae itu cukup lamo, mungkin cukup untuk 3-5x garis keturunan kau. (kl kau ado nasep begawe di ptba) wakakakaa..


budaklolo ini terlalu LOLO untuk tau seluk beluk PTBA.

Anonim mengatakan...

apapun yang terjadi, aku masih nag masuk kerja di PTBA nilah,geg kalo lah tekumpul duet,bikin usaha.. nag bikin usaha dwek tanpa modal, asongan b kalo cak itu, hahaha..
PTBA lah sudah membuktikan kepeduliaannya untuk masyarakat tnjung enim nd sekitarny, liatlah b, CSR dri PTBA betaburan, tu tandanyo PTBA idag lepas tanggung jawab ats potensi yang diraub. apapun itu, sikap apatis kw k PTBA mencerminkan sikap putus asa atas masa lalu, mungkin b kw kcewa tes PTBA dag lulus2, apapun itu, nd dampak apapun itu yg dberikan PTBA, telah d audit K3-kesling ny,klo idag, dag mungkin jalan lgi projekny.. lagian PTBA jugo pnya biro K3-LH ny, tu wjib dpunyoi oleh PT dengan potensi dmpak bsar nd luas.. kalo ngbacot, liat dlu ck mno manajemen ny dsno..
emang bener perhatian kw. agar dag trjadi dmpak bruk cak yg kw2 omongke, jdilah pemerhati yg peduli nd BERTINDAK, jgan pcak ngomong b,,inger anjing menggonggong ttep b menggonggong, ktek mnusia yg nag pduli wong mnusia nya dag ngerti kq.. sipppp

Anonim mengatakan...

KALO SEKOLAH BAWAH TEHONG EMG CK INI HASIL NYO,,,

Anonim mengatakan...

banyak komentator ke empat dan seterusnyo yang kebakaran jenggot sendiri, sampek ke mbahas manajemen pe te be a, KLH, dll yang notabene lebih urusan internal perusahaan dan bukan konsumsi publik. idak nyambuuuung.

Anonim mengatakan...

adanya komentar yang langsung menafikan ide blogger dan menghimbau agar blogger diam lalu berbuat sajalah, lalu mengait ngaitkan pula isi tulisan blog ini dengan pembelaan secara emosional terhadap lembaga atau manajemen perusahaan tertentu, itu menunjukkan tololnya sebagian pembaca blog dalam mencerna pokok pikiran yang disampaikan penulis. mungkin waktu sekolah tak pernah mengikuti pelajaran, berkelahi saja bisanya ya. sampai setelah bekerja di tambang dan jadi orang dewasa pun otaknya tak pernah jadi lebih pintar dan bijaksana. masih mengedepankan cara cara lama yang kampungan. mentang mentang tinggal di sumsel, harus kelihatan pemarah, emosi tinggi, mengancam ancam. sadarlah kawan, kamu sudah ketinggalan jaman.

tulisan blogger ini kan lebih ke saran pikiran akan pola pikir warga Tanjungenim. tidak ada yang menyebut bahwa perusahaan X salah, perusahaan Y salah. kalau dikatakan PTBA mungkin nanti pindah ke Lahat, itu bukan tudingan ke entitas tertentu, melainkan spekulasi. Tulisan ini lebih mengajak melihat warga Tanjungenim itu cara berpikirnya bagaimana, dan seharusnya bagaimana. Kalau tak setuju ya sudah, kemukakan alasan yang lebih masuk akal tak perlu marah, menghujat penulis, dan bernada mengintimidasi. Lihat apa yang jadi topik.

selain tak membaca ide blog dengan baik, sebagian orang ini juga belum punya sense of thinking. ranah ide harus selalu berakhir dengan pertengkaran ya? bukankah ide A jika dianggap salah tidak sesuai harus dibantah dengan ide B. ide B juga dapat terbantah dengan ide C, dan seterusnya. jadilah orang modern. orang modern bukan otomatis karena di dekat rumah sekarang banyak warnet, atau punya HP yang bisa buat internet. tapi orang jadi modern kalau dia sudah paham bagaimana internet digunakan dengan sehat dan membawa manfaat.

Anonim mengatakan...

siapo itu yang nulis gaji kau lebih kecik dari gaji pengemis tanjung? alangkah katek otak budak itu? di mano moralnyo?

Anonim mengatakan...

Seharusnya kita g' usah pusing dgn perbedaan pandangan, segala yang terjadi ada keuntungan dan kerugian sekarang bagaimana kita berpikir untuk memanfaatkan keuntungan dan berusaha untuk siap dgn kerugian.

Anonim mengatakan...

apakah temen kecil anda hanya seorang joko??? bagaimana nasib temen anda yg lain ? sukses ? sengsara ?
saya salut dan hormat dg anda, tidak semua orang bisa seperti anda untuk hidup d tengah kerasny ibukota. yang saya heran kenapa anda masih saja mau bertahan dengan kondisi itu, anda cerita bagaimana susahnya di ibukota tapi kok anda masih saja mau bertahan di sana. tanjung kota saya jga saya lahir d tanjung enim saya juga besar di tanjung enim. dan saya sangat bangga dengan adanya ptba di sana. satu saran saya, anda sudah sangat bangga dg pengalaman anda, coba sekali2 anda kembali k tanjung enim, buktikan kalau anda bisa, buktikan apa hasil dari rantauan anda, lebih baik seperti itu dari pada perkataan anda d blog ini. dan terima kasih atas sarannya untuk memberitahu kalau sukses itu bisa dimana saja, tapi saya masih berharap bisa bekerja, sukses, karir, di tanjung enim karena orang tua saya ad d sana dan saya mau dekat dengan orang tua.

Anonim mengatakan...

Ayo budak tanjung enim, saling mengomentarilah dgn sifat yg positif...perbedaan itu mmg slalu membawa masalah, tp jangan jadikan perbedaan itu cerminan moral dan intelektual kita yang buruk...ada PTBA atau tidak ada PTBA, tetaplah bangga dengan kampung halaman kalian, dimanapun skrng kalian mencari rejeki...Semua itu kembali ke pilihan dan jalan hidup, pilihan untuk merantau, pilihan untuk menetap, pilihan untuk mengabdi kepada orng tua utk tetap disamping beliau adalah sah-sah saja...dengan adanya blog ini mungkin menjadi salah satu wahana buat warga tanjung enim untuk bertukar pikiran secara sehat yang mungkin akan menghasilkan inspirasi atau malah suatu perubahan yang positif untuk kampung halaman.

oleh : warga jogja bersuamikan warga tanjung enim

hendra mengatakan...

aku jeme lingge asli dide nak diributtkan ige na perusahaan ape saje teserah yg pnting q msih tekinak jeme di tanjung nie...kami jeme lingge dide ngarapkan ige diinjuk tapi kami pacak nyakah pajuhan diwe... prinsip kami jeme lingge berdiri di atas kaki sendiri tinggal kite befikir diwe ape yg lah kite sumbangsihkan untuk kota tanjung kite nie..harusnye kite bersatu

081380783912 INFO ALAT TERAPI AKUPRESSUR PALING TERKENAL mengatakan...

Tanjung enim kalu la habis arangnyo ke jadi apo kiro2

╬▓ojak mengatakan...

Nduk ai alangkan apatisnye kite ni dgn blog ini, ini masukan utk tambahan wawasan befikir.. cube jernihke kudai fikiran sebelum komen, yakin aku kl kamu2 ni bependidikan tinggi gale dide lok aku yang asak tamat saje stm. kl boleh sharing bkn nak cak kepacakan dan kepakaman. 1. Ade sisi iloknye blog ini yang mengulas pekare ni, ngape? Kite jeme tanjung wajib tanyeka ape yang sude dienjukan PTBA dgn jeme kite ? .2. Yang ngatekan lah ilok nian tanjung cukah kite kaji ulang dgn perbandingan, berdiri thn 1919-2013 yg katenye untuk kemaslahatan umat khususnye jeme tanjung umumnye dgn prov sumsel? Jgn katekan ilok nian menahi tanjung dgn ape yg sude diambek dgn ape yg gimpai dienjuk.. dek sebanding kanceeeee cukah bebenah dikit! Keuntungan tahun 2012 saje capai 1,5terilyun dibadah kite gimpai dibangunkan simpang empat plus lampu abangnye ngan GOR tahun sebelumnye ade yg pacak cerite? Trus ade yg pacak dijadikan ape duitnye? Pacak cecuap mbelah ptba cuma dienjuk jadi karyawan dikontraktor wl cume 9 bulan laju kite njualkan tungguan? 4. Cukah kite kinak ngan peratikan dampak yg ade dimate saje, ayek inem dek pernah tekinak jehenih agi? ..4. Kite ni cuman pacak bemance ngan ayal (terlena) ayal kl segale sesuatunye dek katek batas abisnye.. Semoga Tanjung Enim Jaya!

Anonim mengatakan...

Yang benar itu : Berfikir, berbuat, bertindak ---> Apa yang bisa saya perbuat utk Tanjung Enim,,,,????

Tak perlu menhujat sana, mnghjat sini, tak perlu ngmng yg tdk perlu,

Sbb yg dibutuhkan tanjung enim adalah ---> Generasi Muda yang mampu memajukan Tanjung Enim dgn segenap kemampuannya, baik dari segi akademis ataupula dari segi ketermpilannya,,,,,

Salam,

Jeme kite nila