Selamat Datang kance dulur se-Tanjung Enim angat

Hewan kesayangan

Sekitar sebelas tahun yang lalu, ketika itu Fulan tengah dalam perjalanan menuju perantauan kota pahlawan Surabaya dengan menumpang bus ramayana dari kota Palembang tujauan Yogyakarta. Dia duduk tidak jauh dari pak sopir, tepatnya bangku deretan belakangq sopir. Sang sopir yang sangat ramah bernama pak Joko. Fulan naik bus tqqersebut dari kampung halamannya Tanjung Enim.

Sejak Fulan duduk di bangku bus tersebut, pak Joko sudah mengajak ngobrol Fulan kesana kemari. Ketika melintas beberapa belas kilo meter dari Tanjung Enim tiba-tiba pak Joko mengubah topik obrolan mereka, “Di daerah sini harus kita harus ekstra hati-hati mas Fulan”.Fulan terheran-heran,”Memangnya kenapa pak ?”.pak Joko menjelaskan,”Iya, kalo kita tidak hati-hati kita bisa nabrak hewan peliharaan orang daerah sini. Nah kalo sudah nabrak urusannya bisa panjang. Kita berniat baik menghentikan kendaraan untuk bertanggung jawab mengganti rugi atas hewan yang kita tabrak, tapi kita bisa sengsara sendiri. Masak iya, kalo kita nabrak ayam betina, kita disuruh mengganti kerugian termasuk telur-telurnya dan anak-anaknya yang lahir ketika telur tersebut sudah menetas, kemudian anaknya bertelur juga dan seterusnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, mereka pasti bilang bahwa hewan yang kita tabrak adalah hewan kesayangan keluarga mereka. Hewan kesayangan kan nilainya tidak bisa dihitung dengan uang. Kalau sudah begitu, mana kuat kita kalo disuruh ganti seekor ayam dengan uang beratus-ratus ribu. Kalo kita nggak mau bayar, golok mereka sudah nempel ditenggorokan kita. Makanya kalo kita nabrak hewan disekitar sini mending ditinggal kabur aja daripada kita sengsara”.

Mendengar penjelasan pak Joko, sejenak Fulan terdiam dan merenung dalam hati. Terkadang niat baik memang tidak selalu membuahkan hasil yang baik pula. Apakah orang-orang daerah tersebut tidak pernah berpikir jika mereka berada di posisi sang sopir? Lagipula siapa suruh hewan peliharaan dibiarkan berkeliaran di jalan raya. Selain berbahaya bagi hewan tersebut, hal itu juga dapat membahayakan pengguna jalan yang melintas. Bukankah seharusnya mereka dipelihara didalam kandang? Padahal jika hewan peliharaan mereka merusak tanaman atau barang orang lain, belum tentu juga mereka mau bertanggung jawab. Hewan-hewan tersebut tidak salah berkeliaran di jalan raya karena mereka memang tidak dikaruniai akal untuk berpikir. Sang pemilik hewan tersebut yang seharusnya berpikir untuk menjaga dan memelihara hewan kesayangannya agar tidak membahayakan orang lain.